Wabup Sumedang: Jangan Anggap Remeh Urusan Salat Subuh Berjamaah

SUMEDANG, eljabar.com — Wakil Bupati Sumedang H. Erwan Setiawan didampingi Istri Hj. Samantha Dewi melaksanakan Salat Subuh berjamaah di Masjid Besar Al-Hidayah Kecamatan Tanjungmedar, Rabu (16/10/2019).

Warga sangat antusias mengikuti salat subuh berjamaah sampai jemaah pun tidak tertampung dan meluber ke luar mesjid.

Camat Tanjungmedar E Heri Purnama dalam sambutannya megatakan, kehadiran Wabup di wilayahnya menjadi momen tonggak sejarah dalam rangka syi’ar Islam dengan menyemarakkan dan memakmurkan mesjid.

“Kami mengajak kepada seluruh warga masyarakat Tanjungmedar agar dapat melaksanakan apa yang menjadi himbauan Bupati dan Wabup terkait Visi Misi yang kedua yakni Sumedang Agamis,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dengan hadirnya wabup diharapkan ke depan ada sentuhan bantuan untuk pembangunan Mesjid Besar Tanjungmedar.
Pada kesempatan itu pula, jajaran ulama, Forkopimka, dan masyarakat Kecamatan Tanjungmedar melakukan deklarasi berisi dukungan terhadap Program Sumedang Agamis.

Isi dari deklarasi yang dibacakan oleh Ketua MUI Kecamatan Muhammad Amin tersebut isinya antara lain akan senantiasa istiqomah dalam melaksanakan Salat Subuh Berjamaah, mengajak seluruh komponen masyarakat untuk Salat Subuh Berjamaah, menjadikan jumlah jemaah Salat Subuh Berjamaah sebagaimana layaknya Salat Jumat, dan memakmurkan mesjid dengan Magrib Mengaji.

Wabup H. Erwan Setiawan dalam sambutannya, menyayangkan masih banyaknya umat Islam yang saat ini menganggap remeh urusan shalat berjamaah.

“Kita lihat di mesjid-mesjid atau musola sekitar kita. Sedikit sekali orang- orang yang melaksanakan shalat berjamaah setelah azan berkumandang. Kalaupun ada, paling juga hanya penuh pada shaf pertama. Saya berharap tidak ada lagi mesjid- mesjid yang kosong. Salat subuh berjamaah tidak hanya serominial tapi harus berkelanjutan,” ungkapnya.

Wabup berpesan kepada warga agar menjaga lingkungan di musim panas ini. Ia menceritakan bahwa pada hari kemarin Pondok pesantren Al-Hikammussalafiyah di Tanjungkerta ditimpa bencana kebakaran yang menyebabkan tiga kamar santri putra habis terbakar.

“Kita dapat memetik beberapa hikmah. Pertama, kita dituntut untuk selalu berhati- hati dan waspada terhadap berbagai kemungkinan bencana yang terjadi sebagai langkah antisipas. Kedua, perlunya sosialisasi tanggap bencana seperti, kebakaran, gempa bumi, longsor dan lainnya,” himbaunya. (Abas)

Advertisement

Categories: Pemerintahan