Berharap Bantuan, Alvin Terjatuh dari Pohon Kelapa Hingga Tulang Belakangnya Remuk
SUMEDANG, eljabar.com — Malang nian nasib Alvin Nurian 24 tahun, warga Dusun Cukang Lemah RT 03 RW 08 Desa Raharja Kecamatan Tanjungsari ini lumpuh tak bisa berjalan lantaran jatuh dari pohon kelapa. Ayah tiga anak ini harus merangkak berjalan kaki dibantu alat. Seperti apa kisahnya, berikut liputannya.
17 Juni 2020 tepat dimana kejadian tragis itu bermula. Alvin Nurian (24) bersama kakaknya berniat mengambil buah kelapa di Dusun Rancabawang Desa Cinanjung Kecamatan Tanjungsari. Namun, nasib berkata lain, saat hendak turun dari pohon, kakinya keram. Dia tak bisa menahan berat tubuhnya dan akhirnya terjatuh dari ketinggian 8 meter.
Spontan, tubuhnya lemas, kakinya kaku dan ada panas di tulang ekornya. Dia pun sontak tak bisa berdiri hanya terkapar kesakitan. Untuk pulang ke rumahnya, dia pun harus dibopong menggunakan jangkar dan mobil kol bak. Sejak kejadian itu, sampai sekarang kedua kakinya tak bisa digerakan bahkan ada benjolan di tulang belakangnya.
“Sudah lima bulan kejadiannya, tapi gak ada perubahan. Saya berobat ke bengkel tulang dan diterapi secara tradisional,” kata Alvin didampingi ibunya Aminah saat ditemui dikediamannya.
Sedih dan rasa sakit yang menyengat dibagian tulang ekornya. Lebih dari itu, secara psikologis dirinya tertekan karena harus menghidupi anak dan dua anaknya (satu masih dalam kandungan, red). Sebab, diusia yang masih muda, dia harus dibopong dengan alat untuk berjalan. Bahkan, untuk berdiri pun dia kesulitan.
Jutaan uang pun sudah dia keluarkan selama berobat. Untuk satu kali chekup, dia harus mengeluarkan sedikitnya Rp600 ribu sampai Rp1, 5 juta. Masih mending kalau langsung sembuh, perlu berbulan bulan lagi bahkan harus Dioperasi menurut keterangan dokter. Karena sudah lama cuti, perusahaan yang telah memperkerjakannya di pabrik jaring, harus mem PHK Alvin.
Kini, Alvin disamping lumpuh juga tak memiliki pekerjaan, sementara dua anak dan istrinya harus hidup. Dia pun menjual aset di rumahnya untuk keperluan berobat dan makan. Kini, dia dirawat orang tuanya di Dusun Cukang Lemah.
“Sudah lima bulan begini, harus makan, cari nafkah. Terpaksa saya dirawat di rumah orang tua. Sementara jajan anak dan makan, dikasih orang tua. Sebenarnya malu, tapi mau gimana lagi,” katanya.
Kini, dia berharap ada bantuan dari pemerintah daerah dan pihak donatur yang dermawan. Sebab, dia bingung mau berobat kemana lagi sementara roda kehidupan rumah tangga terus berjalan. Untuk sekali chek up pun, dia harus mengutang ke klinik tempat dia berobat.
“Pertama pas kejadian, dibawa ke bengkel tulang di Sirah Gajah Rancaekek, dua bulan di sana, kemudian pindah ke klinik tulang Maruyung Kecamatan Tanjungsari. Nah, sekarang masih berobat jalan ke sana. Chek up dua minggu sekali padahal harusnya satu minggu sekali, karena gak ada biaya,” katanya.
Menurut keterangan dokter di klinik, tulang belakang Alvin sudah remuk bahkan bergeser. Sehingga, berimbaa kepada otot kakinya dan tak bisa digerakan. Bahkan, kedua kakinya mengecil karena jarang digerakan. Hasil rontegen dia harus menjalani operasi patah tulang, namun terkendala biaya.
“Saya gak punya uang lagi. Karena BPJS gak ikutan, KIS gak punya, tunjangan dari pabrik pun tak ada. Kalau dioperasi kayannya sembuh,” ujarnya.
Dengan wajah berkaca-kaca, dia pun sesekali melihat dua anaknya yang sedang bermain. Bahkan, diusia lima tahun anaknya, jajan keur mejeuhna. Terpaksa, orang tuanya yang membiayainya.
Istrinya yang tinggal di rumah orang tuanya pun tak bekerja. Istrinya hanya merawat dan bersabar menerima cobaan tulang punggung keluarganya terkena lumpuh. Kini, belaian dan bantuan orang lain, sangat diharapkannya apalagi ditengah pandemi Covid-19.
“Harapannya mah mau sembuh, biar bisa bekerja lagi nafkahi anak istri. Tapi harus dioperasi uang dari mana, perlu puluhan juta untuk biaya operasi,” tandasnya. (Abas)







