Kronik

Batu Granit Impor untuk Alun-alun Sumedang

Menjelang Peresmian Alun-alun Sumedang (Bag.3)

REVITALISASI Alun-alun Sumedang yang didanai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat sekira Rp. 16 Miliar dinyatakan sudah rampung 100 persen pengerjaannya pada 17 Februari 2020. Bahkan sehari sebelumnya, 16 Februari 2020, Gubernur  Jawa Barat Ridwan Kamil usai melaksanakan Salat Subuh Berjamaah di Masjid Agung berkesempatan meninjau langsung Alun-alun Sumedang bersama Bupati Dony Ahmad Munir beserta Forkopimda sebagai persiapan untuk peresmiannya.

Hanya saja penyelesaian pembangunan tersebut mengalami pertambahan waktu dari yang ditentukan yaitu 98 hari kerja, terhitung sejak peletakan batu pertama pada 5 September 2019 oleh Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.

Selain karena beberapa material yang harus diimpor dari China, keterlambatan penyelesaian revitalisasi Alun-alun Sumedang yang luasnya mencapai 1,2 hektare tersebut, juga disebabkan adanya perubahan pada pengerjaan Gapura di sudut Alun-alun sebelah Selatan.

Kabid Tata Bangunan pada Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kabupaten Sumedang, Budi Yana Santosa, mengatakan, pada akhir kontrak pembangunan Alun-alun Sumedang berada pada volume 98,2 persen sehingga tersisa 1,2 persen berkaitan dengan pembuatan Gapura yang memerlukan detail dalam pengerjaannya.

“Gapura itu memang harus dibuat dengan kesan artistik dan bernuansa religi. Jadi diperlukan proses yang cukup lama untuk penyelesaiannya,” ujar Budi saat dikonfirmasi di Alun-alun Sumedang.

Dengan kurangnya volume 1,2 persen di akhir kontrak, sambung Budi, ada kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan selama 40 hari sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa.

“Alhamdulillah, pada 17 Februari kemarin pengerjaan sudah rampung 100 persen dan saat  ini sudah memasuki tahap pemeliharaan selama enam bulan ke depan,” ujarnya.

Adapun mengenai dua jenis batu yang diimpor dari China yaitu Batu Granit Impala dan Star white, Budi mengatakan, penggunaan kedua jenis batu tersebut mengacu kepada Detail Engineering Desain (DED) yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dimana dipilih karena kelebihannya menyala di malam hari di samping penggunaan batu jenis Teraso Sikat.

“Jadi batu ini juga sudah dicek langsung oleh konsultan khusus, untuk memastikan bahwa batu tersebut benar-benar granit impor dan tidak diproduksi di Indonesia. Sesuai dengan harganya yang terbilang mahal, kedua jenis batu tersebut mempunyai keunikan tersendiri yaitu akan mengeluarkan glitter/cahaya di malam hari sehingga akan menambah keindahan Alun-alun,” ucapnya.

Lebih jauh Budi menuturkan bahwa konsep yang dipakai dalam pembangunan Alun-alun Sumedang yaitu terdiri atas 5 zona yakni Zona Kehutanan, Kesehatan, Pertanian, Peternakan/Perikanan, dan zona Pendidikan.

Selain itu, Alun-alun Sumedang didesain terbuka dengan empat pintu masuk sesuai arah angin dan di dalam Monumen Lingga dikelilingi kolam dan ada di dalam taman. Hal ini sesuai dengan nilai filosofis Papat Kalima Pancer.

“Semoga dengan dibangunnya Alun-alun Sumedang ini dapat dimanfaatkan untuk tempat rekreasi, refreshing, olahraga dan edukasi pendidikan bagi masyarakat Sumedang,” tandasnya.

(Abas/Humas Sumedang)

Show More
Back to top button