Empowering Women, Mengoptimalkan Perannya dengan Cara Islam – El Jabar

Empowering Women, Mengoptimalkan Perannya dengan Cara Islam

PEREMPUAN mana yang tidak menginginkan dirinya bisa bermanfaat, berguna dan menyumbangkan potensinya untuk bangsa baik itu wawasannya dan keahliannya yang sudah pasti dibutuhkan oleh negara. Namun, Empowering women atau pemerdayaan perempuan saat ini mungkin hanya dibatasi dengan berperannya perempuan dalam hal ekonomi.

Menuntut perempuan mengambil andil dalam perbaikan ekonomi bangsa yang justru akan menjauhkan dari fitrahnya. Walaupun berbagai momen perempuan sampai saat ini terus dilakukan sebagai bukti menghormati jasanya dan perlindungan pun terus dilakukan oleh pemerintah. Peringatan-peringatan yang bertema perempuan kerap mengangkat derajat perempuan termasuk dalam peringatan hari ibu yang setiap tahunnya diperingati di Indonesia termasuk di Jawa Barat.

Atalia Kamil Istri gubernur Jabar menjelaskan peringatan Hari Ibu merupakan penghargaan jasa perempuan yang dengan tekad dan cita-citanya dapat mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Hari Ibu dimaknai Atalia sebagai momentum bersama untuk mendorong perempuan untuk dapat mengambil lebih banyak posisi dan peran dalam pembangunan bangsa dengan cara menjadi perempuan yang berwawasan, berdaya, terampil, tidak pernah berhenti belajar dan juga siap menjadi teladan. (Jabarprov.go.id 22/21/21)

Namun, realitanya bukan menghormati jasa perempuan justru yang ada pengekploitasian perempuan, mengekplotasi tubuhnya dan tenaganya dikuras untuk bekerja dan mengukur berdaya tidaknya seorang perempuan ketika ia bisa menghasilkan materi semata. Seperti itulah pemberdayaan perempuan dalam sistem kapitalisme. Sebuah sistem aturan yang lahir dari akal manusia yang kita sadari manusia memiliki segala keterbatasan.

Jauh berbeda dengan aturan dalam sistem Islam yang mengoptimalkan perannya sesuai dengan fitrahnya. Perempuan dalam Islam ditempatkan dalam posisi yang mulia, perannya dilibatkan oleh negara yang disesuikan dengan kodratnya. Sikapnya yang lembut dan penyayang menjadikan perannya sebagai seorang ibu jika ia sudah menikah, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, pendidik dan pencetak generasi unggul dan taat.

Betapa strategisnya peran perempuan dalam Islam yaitu, pertama peran domestik yakni perannya sebagai istri, pengatur rumah tangga dan pendidik anak-anaknya, peran ini tidak bisa digantikan oleh siapapun. Kedua peran dalam pendidik generasi, fitrahnya perempuan mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh serta mendidiknya merupakan serangkaian tugas pokok seorang ibu.

Ke tiga peran dalam urusan publik, baik laki-laki dan perempuan mendapatkan hak yang sama prihal pendidikan, belajar ilmu, mengajarkan ilmu dan berdakwah. Adapun perannya ketika ia bekerja di ranah publik Islam membolehkan dengan ketentuan yang diperbolehkan syariat, hanya saja kewajiban mencari nafkah Allah hanya wajibkan kepada laki-laki. Dengan serangkaian perannya tersebut, maka perempuan perlu penjagaan, dihormati dan dilindungi.

Perbedaan peran ini disesuikan dengan fitrahnya masing-masing ini semua bukan bentuk diskriminasi. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS An-Nisa: 32)

Inilah peran strategis perempuan menurut syariat Islam, bukan sekedar mencari materi namun jauh dari sekedar itu. Maka perannya akan optimal jika memakai cara yang ditawarkan Islam.

Wallahua’lam.

Penulis adalah Yuyun Suminah, A. Md, Seorang Guru dan Pegiat Literasi

Categories: Kronik