Kuota TPA Sarimukti Terus Berkurang, Pemkot Bandung Percepat Pengolahan Sampah Wilayah

BANDUNG, eljabar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempercepat penguatan pengelolaan sampah berbasis wilayah menyusul terus berkurangnya kuota pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, kuota pengiriman sampah Kota Bandung ke TPA Sarimukti kini mengalami pengurangan secara bertahap setiap dua minggu.
Jika sebelumnya Kota Bandung dapat membuang sekitar 980 ton sampah per hari, ke depan jumlah tersebut akan ditekan hingga sekitar 600 ton per hari.
“Kondisi sampah saat ini masih terkendali, tetapi harus diwaspadai karena kuota terus berkurang. Ini membutuhkan langkah antisipasi yang serius,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (11/05/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Bandung mendorong penguatan pengelolaan sampah di tingkat RW dan kelurahan, khususnya sampah organik yang menjadi penyumbang terbesar volume sampah harian.
Salah satu kebijakan yang akan diterapkan yakni pembatasan operasional Tempat Penampungan Sementara (TPS). Bahkan, TPS direncanakan ditutup setiap akhir pekan mulai Jumat hingga Minggu agar masyarakat mulai terbiasa mengelola sampah secara mandiri.
“Warga harus mulai mencari solusi di wilayah masing-masing, khususnya untuk sampah organik. Tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada TPS,” katanya.
Selain itu, Pemkot Bandung juga akan memperketat pengawasan di wilayah perbatasan guna mencegah masuknya sampah dari luar Kota Bandung. Pembatasan kapasitas TPS juga dilakukan untuk menghindari penumpukan sampah di sejumlah titik.
Farhan menegaskan, persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi memerlukan keterlibatan aktif seluruh masyarakat, terutama dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto mengungkapkan, saat ini Kota Bandung telah memiliki sekitar 1.510 unit kompos pit dengan kapasitas lebih dari 2.800 meter kubik.
Namun jumlah tersebut dinilai masih belum ideal untuk menangani sampah organik yang mencapai lebih dari 600 ton per hari. Karena itu, Pemkot Bandung menargetkan pembangunan hingga 25.000 unit kompos pit yang akan ditempatkan di seluruh RW.
“Setiap RW minimal memiliki empat unit komposter agar sampah organik bisa dikelola di wilayah masing-masing selama kurang lebih tiga bulan sebelum dipanen,” jelas Darto.
Selain komposter, Pemkot Bandung juga terus mengembangkan berbagai metode pengolahan sampah lainnya seperti budidaya maggot, loseda, hingga pemanfaatan sampah sebagai pakan ternak.
Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi beban sampah yang harus dibuang ke TPA secara signifikan.
Tak hanya itu, Pemkot Bandung juga akan mengaktifkan kembali 18 unit alat pengolah sampah dengan kapasitas total sekitar 18 ton per hari. Dua unit tambahan dengan teknologi Air Pollution Control (APC) juga segera dioperasikan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan.
Di sisi lain, rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pengembangan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di kawasan Sarimukti turut menjadi bagian dari solusi jangka panjang penanganan sampah di Bandung Raya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Bandung berharap pengelolaan sampah di Kota Bandung dapat berjalan lebih mandiri, berkelanjutan, dan mampu menjaga kondisi tetap terkendali di tengah keterbatasan kuota TPA.
“Kita harus bergerak bersama. Kalau tidak, kondisi ini bisa semakin berat,” pungkas Farhan. *red







