Modal Jual Motor Vespa, Beben Hasilkan Ratusan Juta per Bulan dari Pabrik Tahu - El Jabar

Modal Jual Motor Vespa, Beben Hasilkan Ratusan Juta per Bulan dari Pabrik Tahu

NASIB tak bisa dipungkir, malang tak bisa diraba. Begitulah kira kira ungkapan yang pas untuk Beben Belamudin pengusaha tahu Bandung BN asal Cibeusi Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Seperti apa kisahnya, berikut liputannya.

Awalnya tak ada yang menyangka jika Beben Belamudin warga Dusun Bojong Ereun RT 01 RW 10 Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor ini menjadi pengusaha tahu kuning. Sebab, sehari hari dia hanya jualan sayuran dan tahu di Pasar Dangder Rancaekek.

Sempat jadi kuli di pabrik Tahu Cibuntu selama dua tahun, Beben memiliki keinginan untuk membuka pabrik tahu sendiri. Meskipun dia tak memiliki modal untuk membuka usaha pabrik tahunya. Terpaksa, dia menjual motor vespa tua satu satunya miliknya. Dengan harga Rp400 ribu dan uang tabungan selama berjualan sayuran dan tahu keliling di pasar, Beben mengontrak sebuah rumah di sekitaran Desa Sayang Kecamatan Jatinangor untuk membuka pabrik tahu.

“Awalnya jualan sayuran, tahu di pasar pake roda. Kemudian saya jenuh, gimana caranya buka pabrik tahu. Karena punya ilmu membuat tahu, saya memberanikan diri membuka pabrik tahu meskipun ngontrak,” katanya saat berbincang dengan eljabar.com.

Dengan modal Rp1 juta, dia menyewa kontrakan dan membeli peralatan pabrik tahu sederhana. Selama enam bulan ngontrak sat itu, hanya 10 Kg kedelai yang diproduksi. Lambat laun, karena sudah memiliki pelanggan, pabriknya mampu memproduksi 2 kuintal kedelai per hari. Modal ketekunan dan pengalaman dibidang bisnis tahu, dia terus memperbaiki diri dan terus mengembangkan sayapnya.

Sepak terjang dan turun naik harga kacang kedelai, tidak membuat dia lemah. Justru semakin semangat bagaimana tahu kuning yang berlabel BN (Beben, red) itu laku di pasaran.

Hingga pada akhirnya, dia bisa membuka pabrik tahu sendiri di Dusun Bojong Ereun RT 01 RW 10 Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor dengan omzet  6 kuintal kedelai per hari.

“Awalnya masukin ke pasar Rancaekek, Cibeusi dan Cileunyi. Lambat laun, pesanannya terus berdatangan, hingga ke Pasar Parakanmuncang dan Tanjungsari. Alhamdulillah, sekarang bisa mencapai 6 kuintal kacang kedelai per hari dengan jumlah tahu 240 ancak (loyang),” katanya.

Pria bertubuh pelontos ini menambahkan, kini pabriknya memiliki karyawan sebanyak 12 orang dan beberapa rekanan mitra pedagang tahu keliling yang menggunakan motor dan dipanggul. Dalam sehari, tak kurang dari 6 kuintal kedelai dengan penghasilan kotor Rp9.600.000 per hari.

Selama menjadi pedagang tahu selama tiga tahun, Beben tahu persis bagaimana suka duka menjadi penjual tahu. Makanya, kepada pelanggan dan mitranya, dia tidak menekan atau bersikap keras. Kuncinya, hidup bersyukur dengan rijki yang ada dan selalu bersedekah ke sesama.

“Alhamdulillah saya tidak menyangka bisa seperti ini. Kuncinya ya selalu bersyukur, berbagi ilmu dan pengalaman juga tetap sabar menghadapi masalah,” katanya.

Dengan pengasilan kotor Rp288 juta per bulan, Beben mampu menggaji karyawannya Rp5,4 sampai Rp6 juta per bulan per orang. Sementara dirinya kebagian untung Rp1 juta per hari.

Bagi Beben, berbagi itu disukai Allah, dan tidak akan jatuh miskin gara gara berbagi.

“Alhamdulillah kini sudah memiliki pabrik sendiri, rumah, mobil pribadi dan mobil bak terbuka buat ngangkut tahu. Ini berkah dan rijki buat saya dan keluarga,” katanya.

Produksi tahunya, kata dia, menggunakan kacang kedelai berkualitas dari Tagog Cileunyi dan dengan bahan bakar cangkang kelapa sawit. Tak hanya itu, bahan pewarnanya pun menggunakan kunyit asli yang memberi manfaat bagi kesehatan.

Ditengah pandemi, usahanya sempat mengalami penurunam produksi dari 6 kuintal kacang kedelai per hari menjadi 4 kuintal kacang kedelai.

“Harga tetap tidak naik, tapi kami kecilkan ukurannya. Kami kurangi jumlah produksi yang awalnya per hari bisa sampai 6 kuintal, jadi 4 kuintal,” katanya. (Abas)

Categories: Kronik