Pendidikan

Prof. Diana Sari Resmi Jadi Rektor USB YPKP 2026-2030, Targetkan Sangga Buana Great Again

BANDUNG, eljabar.com – Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung resmi memiliki pemimpin baru untuk periode 2026-2030. Prof. Diana Sari, S.E., M.Mgt., Ph.D., dilantik sebagai Rektor USB YPKP menggantikan Dr. Didin Saepudin, S.E., M.Si.

Prosesi serah terima jabatan dan pelantikan Rektor USB YPKP tersebut berlangsung di Gedung Serba Guna USB YPKP Bandung, Jumat (11/09/2026). Pelantikan ini sekaligus menandai dimulainya era kepemimpinan baru di perguruan tinggi yang telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan tinggi di Kota Bandung.

Dalam pidato sambutannya, Prof. Diana menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan (YPKP) atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin USB YPKP. Ia juga memberikan penghargaan kepada para rektor dan pimpinan terdahulu yang telah meletakkan fondasi bagi perkembangan universitas.

“Terima kasih banyak kepada Pak Didin. Kita akan melanjutkan fondasi yang telah Bapak bangun, merawat nilai-nilai yang diwariskan, dan memperkuat USB untuk menjawab tantangan masa depan,” ujar Prof. Diana di hadapan para tamu undangan.

Tiga Agenda Utama Kepemimpinan Prof. Diana: Unggul, Terhubung, dan Berdampak

Dalam pidatonya, Prof. Diana memaparkan tiga agenda utama yang akan menjadi arah kepemimpinannya selama periode 2026-2030, yakni mewujudkan USB yang Unggul, USB yang Terhubung, dan USB yang Berdampak.

Agenda pertama adalah USB yang Unggul. Menurut Prof. Diana, keunggulan universitas harus dimulai dari peningkatan kualitas pembelajaran dan pengalaman mahasiswa.

Pembelajaran di USB YPKP, kata dia, harus semakin kontekstual dengan kebutuhan zaman, memanfaatkan teknologi secara bijaksana, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Selain kualitas pembelajaran, penguatan kompetensi dan kesejahteraan dosen serta tenaga kependidikan juga menjadi perhatian. Seluruhnya akan ditopang tata kelola yang transparan, berbasis data, dan berorientasi pada pelayanan.

Agenda kedua adalah USB yang Terhubung. Universitas akan memperkuat hubungan dan jejaring dengan pemerintah, dunia usaha, industri, organisasi profesi, komunitas, serta berbagai mitra nasional dan internasional.

Penguatan kemitraan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa dan alumni, mulai dari program magang, pembelajaran bersama praktisi, penelitian kolaboratif, pengembangan usaha, hingga akses terhadap dunia kerja.

Sementara agenda ketiga adalah USB yang Berdampak.

Prof. Diana menegaskan, ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di lingkungan kampus, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, riset dan inovasi akan diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan riil, seperti membantu pengembangan UMKM, mendukung pemerintah dalam menemukan solusi atas berbagai persoalan, serta meningkatkan daya saing industri.

 

Target Ambisius “Sangga Buana Great Again”

Usai prosesi pelantikan, Prof. Diana mengungkapkan target besar yang ingin dicapainya selama memimpin USB YPKP, yakni mengembalikan kejayaan Universitas Sangga Buana seperti pada masa lalu.

Dalam sesi doorstop bersama awak media, ia menyebut target tersebut dengan istilah “Sangga Buana Great Again” dan menargetkan universitas dapat melakukan rebound.

“Target utama adalah membuat Sangga Buana great again, rebound. Sangga Buana pernah memiliki mahasiswa sampai 20 ribu. Itu menjadi salah satu motivasi saya. Sekarang kita di sekitar 6 ribu lebih mahasiswa. Tentunya itu menjadi motivasi bahwa Sangga Buana ini pernah besar dan kita harus rebound,” tegasnya.

Untuk merealisasikan target tersebut, Prof. Diana menekankan pentingnya memantapkan posisi USB YPKP yang saat ini telah meraih predikat unggul, baik dari sisi akademik, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga menyoroti peran alumni sebagai salah satu kekuatan strategis yang dapat membantu universitas mempertahankan sekaligus meningkatkan keunggulannya.

“Saya akan lebih menggerakkan alumni. Kekuatannya sangat luar biasa untuk bisa meningkatkan atau mempertahankan keunggulan Sangga Buana,” ujarnya.

Perluas Kerja Sama Internasional, Bidik Australia dan Eropa

Di bidang internasionalisasi, Prof. Diana menyatakan akan memperluas jaringan kerja sama USB YPKP dengan berbagai negara.

Saat ini, USB YPKP telah memiliki kemitraan dengan sejumlah negara, di antaranya Korea, Malaysia, Thailand, Turki, dan Slovakia.

Ke depan, kerja sama internasional tersebut akan diperluas ke Australia dan negara-negara Eropa, terutama dalam pengembangan program pertukaran mahasiswa.

“Di negara Eropa, untuk exchange students tidak terlalu ribet. Mudah-mudahan dalam waktu dekat Australia akan kita jajaki,” ungkapnya.

Selain internasionalisasi, Prof. Diana juga memasang target penguatan sumber daya manusia, khususnya dalam peningkatan jumlah guru besar di lingkungan USB YPKP.

Ia menargetkan hingga 2030 USB YPKP memiliki 10 guru besar. Saat ini terdapat 19 dosen yang sedang menunggu masa tunggu jabatan profesor, dengan 10 di antaranya telah memenuhi syarat atau eligible.

“Insya Allah itu juga menjadi target saya. Mudah-mudahan 2030 Sangga Buana sudah memiliki 10 profesor,” harapnya.

 

Dukung Pembukaan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan

Prof. Diana juga menyampaikan dukungan terhadap rencana yayasan untuk membuka fakultas baru, yakni Fakultas Kedokteran dan Kesehatan.

Menurutnya, pihak rektorat siap mendukung berbagai rencana strategis yang telah disusun Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan.

“Kami dari pihak Rektorat bisa mendukung apa yang telah direncanakan oleh Yayasan,” katanya.

Pelantikan Rektor USB YPKP periode 2026-2030 tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan komitmen universitas terhadap konsep green campus dan sustainable campus.

Salah satu bentuk komitmen tersebut terlihat dari kebijakan USB YPKP yang tidak menerima papan bunga ucapan selamat dalam momentum pelantikan. Dana yang biasanya digunakan untuk papan bunga dialihkan untuk mendukung pelatihan green florist, yakni keterampilan merangkai bunga yang lebih ramah lingkungan tanpa menggunakan styrofoam.

“Kami ingin menegaskan bahwa Sangga Buana ini menuju green campus, sustainable campus. Kami juga mengembangkan wakaf produktif, karena pahalanya akan terus mengalir,” jelasnya.

Momentum pelantikan tersebut juga menghasilkan beasiswa bagi mahasiswa. Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari gerakan positif yang dapat terus dilanjutkan dalam berbagai kegiatan besar kampus pada masa mendatang.

Tantangan Kepemimpinan Diubah Menjadi Kesempatan

Memasuki lingkungan dan kepemimpinan baru, Prof. Diana mengakui akan menghadapi berbagai tantangan. Namun, ia memilih memandang tantangan tersebut sebagai peluang untuk melakukan pengembangan dan perubahan positif.

“Saya memasuki daerah baru, lingkungan baru, tentunya banyak tantangan. Tetapi ketika kita bisa melihat bahwa dalam tantangan itu sebenarnya ada kesempatan, tentunya itu bisa mengubah tantangan menjadi kesempatan,” ujarnya.

Prof. Diana menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah tersebut dengan mengedepankan keterbukaan, kerja keras, dan tanggung jawab.

“Kepercayaan akan kita jaga melalui pelayanan, sedangkan reputasi akan kita bangun melalui prestasi. Mari wujudkan USB yang unggul, USB yang terhubung, USB yang berdampak,” pungkasnya.

 

Amanah Yayasan: Bawa USB YPKP Naik Kelas

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan (YPKP), Prof. Ricky Agusiady, menyampaikan tiga poin amanah kepada Rektor USB YPKP yang baru.

Inti dari amanah tersebut adalah membawa USB YPKP naik kelas.

“Ya, tadi yang jelas amanah yang disampaikan ada tiga poin. Tiga poin itulah yang nanti harus dijalankan oleh Prof. Diana. Intinya, Sangga Buana sekarang sudah unggul, tapi kita mau naik kelas. Bukan sekarang belum baik, tapi baik di kelasnya. Kita mau naik kelas sekarang,” ujar Prof. Ricky.

Menurutnya, predikat unggul bukan menjadi tujuan akhir. Keunggulan perguruan tinggi harus dibuktikan melalui outcome dan kebermanfaatan nyata yang dirasakan mahasiswa maupun masyarakat.

“Unggul itu kan tidak hanya orang mencari sekolah tidak hanya melihat unggulnya, tapi outcome-nya, kebermanfaatannya. Apa yang dimanfaatkan oleh mahasiswa bisa langsung kerja, apa yang diterima oleh masyarakat sekitarnya dengan adanya keberadaan lulusan dari Sangga Buana,” jelasnya.

Prof. Ricky menilai tantangan berikutnya adalah membawa USB YPKP yang telah berdiri lebih dari 50 tahun untuk semakin terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi negeri (PTN).

“Sekarang berani membuka diri, berkolaborasi dengan PTN, supaya ini menjadikan paling tidak sejajar. Kalau sudah PTN, arahnya ke internasional. Namun, bisnis swasta ini kan mandiri, dananya mandiri. Itulah salah satu tantangan,” ungkapnya.

 

USB YPKP Siapkan Rencana Pembangunan Rumah Sakit

Selain pengembangan akademik dan kerja sama, Prof. Ricky mengungkapkan rencana strategis USB YPKP untuk membangun rumah sakit.

Menurutnya, pembangunan rumah sakit tidak semata-mata ditujukan untuk menghadirkan fasilitas kesehatan, tetapi menjadi bagian dari pembangunan ekosistem yang lebih luas dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Kenapa membuat rumah sakit? Kita sebenarnya membangunnya bukan membangun rumah sakitnya, tapi adalah ekosistemnya. Ekosistem yang memberikan manfaat keluar. Dengan mendirinya rumah sakit, itu selesai semuanya. Untuk menjadikan manusia cerdas, ya harus sehat,” paparnya.

Ia menegaskan USB YPKP tidak ingin menjadikan rumah sakit yang akan dibangun sebagai pesaing bagi rumah sakit yang telah ada. Sebaliknya, rumah sakit tersebut akan dikembangkan dengan semangat kolaborasi.

“Kita bermainnya bukan di zona merah, tapi di zona biru. Artinya mereka itu bahkan menjadikan partner kita dalam satu ekosistem,” tambahnya.

Saat ini, proses perizinan pembangunan rumah sakit tersebut masih berjalan, termasuk pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

“Mudah-mudahan mohon doanya kalau PBG selesai, artinya kita sudah bisa meningkat ke arah penentuan investor, walaupun sudah ada calon-calonnya, penentuan kontraktor, di antaranya WIKA juga sudah masuk dari plat merah,” ujarnya.

 

100 Hari Pertama Jadi Momentum Pemetaan

Untuk target jangka pendek, Prof. Ricky berharap Prof. Diana dapat segera beradaptasi dan memahami organisasi USB YPKP.

Ia meminta Rektor baru memanfaatkan 100 hari pertama masa kepemimpinannya untuk melakukan pemetaan secara menyeluruh sebelum menentukan kebijakan strategis.

“Dalam 100 hari kerja, dia harus bisa cepat belajar. Saya minta disampaikan di dalam pesan saya, dengarkan. Karena kita bukan merubah budaya baru, tapi meningkatkan dengan budaya baru sekarang,” tegasnya.

Menurut Prof. Ricky, pemetaan menjadi hal penting agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan organisasi.

“Dia harus mengumpul dulu mapping-nya. Mana yang harus kita tingkatkan, mana yang harus kita pelihara, mana yang harus kita perbaiki. Tiga kompetensi itu bisa, maka dia akan mudah nanti membuat kebijakan. Amanah dari yayasan adalah menaikkan kelas,” jelasnya.

Jumlah Mahasiswa dan Pengembangan Program Studi

Prof. Ricky menyebut jumlah mahasiswa USB YPKP telah mencapai 6.600 orang pada 2025 dan optimistis jumlah tersebut dapat terus bertambah.

“Kalau saya ini sudah sampai 7 ribuan lebih. Ini kan satu modal. Kalau Prof. Diana ingin menyampaikan targetnya ke 20 ribu, itu dengan etos kerja yang sangat baik dan strategi yang baik. Kalau menurut saya, untuk stabil saja di atas 5 ribu, atas 7 ribu misalnya, atau sampai 10 ribu,” harapnya.

Di sisi lain, Prof. Diana disebut memiliki target untuk membangun program studi unggul dalam satu hingga dua tahun ke depan.

“Dengan nambah prodi unggul, inovasi kita bisa lebih baik. Akreditasi institusinya kan sudah unggul. Prodinya unggul, kita bisa bikin kelas jauh,” ujarnya.

Pengembangan program studi unggul tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi USB YPKP, sekaligus mendukung target universitas untuk naik kelas.

 

Kepemimpinan Baru Diibaratkan seperti Naturalisasi di Persib

Prof. Ricky juga mengibaratkan masuknya Prof. Diana sebagai pemimpin dari luar lingkungan internal USB YPKP dengan istilah naturalisasi, sebagaimana yang terjadi dalam dunia sepak bola.

Ia mengambil contoh Persib Bandung yang menurutnya dapat meraih prestasi melalui strategi naturalisasi pemain.

“Saya belajar dari Persib. PRC itu bisa jadi juara karena naturalisasi. Tapi saya tegaskan, yang tidak berubah adalah komitmen dan integritas YPKP terhadap dunia pendidikan,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan kepemimpinan tidak boleh menghilangkan komitmen, integritas, serta kultur positif yang selama ini telah dibangun YPKP.

“Dengan naturalisasi, apakah vikingnya jadi berubah? Enggak, dia bangun kok. Dengan fondasi yang kuat, dengan latihan yang profesional. Kurang lebih seperti itulah. Kita anggap ini adalah naturalisasi yang terinspirasi dari PSI,” pungkasnya.

Dengan kepemimpinan baru di bawah Prof. Diana Sari untuk periode 2026-2030, USB YPKP diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan predikat unggul yang telah diraih, tetapi juga bergerak lebih jauh untuk naik kelas, memperluas kolaborasi, memperkuat internasionalisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun ekosistem pendidikan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (**)

Show More
Back to top button