PT CCEP Indonesia Bekerjasama Dengan Berbagai Oranisasi Peduli Lingkungan Melaksanakan Fokus Group Discussion Manajemen Pengelolaan Sampah – El Jabar

PT CCEP Indonesia Bekerjasama Dengan Berbagai Oranisasi Peduli Lingkungan Melaksanakan Fokus Group Discussion Manajemen Pengelolaan Sampah

SUMEDANG,eljabar.cim — Upaya mengentaskan masalah sampah, terutama produksi sampah rumah tangga yang kian hari kian menumpuk, PT Coca cola Europacific Partner (CCEP) Indonesia bekerja sama dengan Organisasi peduli lingkungan Gerakan Muda Peduli Alam (Gempa) Jabar melaksanakan Fokus Group Discussion Manajemen Pengelolaan Sampah di Desa Cihanjuang dengan Sistem Bestari (Bersih Sehat Tangguh Mandiri, Lestari) di Aula Desa Cihanjuang Kecamatan Cimanggung, Kamis (25/11/2021).

Ardianto selaku Humas CCEP (Coca cola Europacific Partner) Indonesia mengatakan PT Coca cola mendukung penuh program ini karena produksi sampah di Indonesia yang mencapai 175 ribu ton per hari. Berapa banyak sampah yang dihasilkan masyarakat jika tidak dikelola dan diolah menjadi bahan tepat guna. Di Jabar sendiri, lanjut Ardianto 60 persen sampah yang dihasilkan adalah sampah an organik.

“Untuk tingkat Kabupaten Sumedang sendiri, produksi sampah mencapai 345 ton per hari. Kapasitas tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di Cibeurem Cimalaka seluas 11 Ha sudah overload, dari kapasitas yang sebelumnya. Seluruh kecamatan harusnya ikut andil dalam penanggulangan sampah ini. Jika tidak ledakan sampah di Sumedang siap siap terjadi,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Ardianto, jika tidak dikelola dari hulu sampai hilir, maka sampah akan menjadi sesuatu yang menakutkan seperti bom waktu yang sewaktu waktu bisa meledak.

“Mau gak mau kita harus memilah sampah sejak dini dari rumah. Makanya program Gempa ini sangat bagus dan sangat mengedukasi. Di sisi lain masyarakat tidak kebingunan membuang sampah, disisi lain Gempa melalui program sedekah sampahnya bisa berjalan,” ujarnya.

Menurutnya, hasil assessment bahwa rata rata setiap kepala keluarga membuang sampah 0,75 Kg setiap hari. Bayangkan berapa Kg per bulan, per tahun. Bahkan, jika terus terusan dibuang ke TPA akan menyebabkan overload. Sampah tidak serta merta menjadi beban kita tapi bisa dimanfaatkan jika dikelola dengan baik.

“Kita dengan Gempa memiliki satu misi. Makanya kita gandeng gempa dengan program desa Bestari. Nilai ekonomi dari sampah, bisa dimanfaatkan. Gempa akan merintis bank sampah. Selain mengolah, gempa juga bisa menampung sampah dan memanfaatkan menjadi nilai jual tinggi,” ujarnya.

Pihaknya akan sering melakukan edukasi baik dengan relawan, volunter, pemerintah setempat dan seluruh elemen masyarakat terkait masalah sampah di lingkungan masyarakat. Sehingga akan tertata pengelolaan sampah dari hulu ke hilir yang baik dan terkontrol.

Sementara itu, koordinator Gempa Jabar, Dekki Ismailudin mengatakan program yang dilaksanakan Gempa saat ini yakni sedekah sampah dan bank sampah. Sedekah sampah artinya memungut sampah di setiap rumah khusus sampah an organik. Kemudian, hasil penjualan sampah itu akan disedekahkan kembali ke anak yatim, jompo, warga yang tidak mampu. Sisanya, akan dipergunakan untuk biaya operasional pengangkutan sampah dan pembelian ambulan untuk kepentingan sosial.

“Sistem pengangkutan sampah yang kita laksanakan saat ini yakni menjemput sampah ke setiap rumah warga. Yakni dengan cara memilah terlebih dahulu sampah organik dan an organik. Khusus sampah yang diambil untuk sementara sampah an organik saja. Setelah terkumpul sampah maka akan dijemput ke rumah rumah,” ujarnya.

Lalu, sampah apa saja yang bisa disedekahkan yakni berupa barang elektronik, plastik, kardus, kertas dan bekas perabotan rumah. Setelah terkumpul, hari itu juga sampah bisa dijemput. Nanti tinggal menghubungi nomor WA.

“Selama ini, kami sudah mengumpulkan sampai September sekitar 208,1 kilo gram. Dari hasil sampah yang sudah dikumpulkan tersebut apabila diuangkan senilai Rp707 ribu. Uang itu dibelanjakan lagi paket sembako, dan terkumpul 20 paket sembako,” paparnya.

Dari total pendapatan sampah, 70 persen untuk disedekahkan kembali, 25 persen untuk operasional pengangkutan sampah, dan 5 persen untuk tabungan membeli ambulan untuk kepentingan sosial warga yang sakit.

“3 bulan kita berjalan alhamdulilah yang sudah menjadi member yakni toko kelontongan, masyarakat biaaa sekitar 5 member. Setiap minggunya memberikan sampah. Kita setiap bulan melaporkan keuangan, pendapatan sampah, keuangan, dan biaya operasional.
Kita transparan dan terbuka bagi masyarakat,” tandasnya.

Seperti diketahui, acara tersebut diikuti Forkopimcam Cimanggung, Kepala Desa Cihanjuang, General Affair PT CCAI Deni Wahyudin, dan Gerakan Muda Peduli Alam, serta perwakilan masyarakat.(abas)

Categories: Kronik