Tak Pernah Sepi, Ini Keunikan Warung Sate Kambing Dadakan Leces Gaul…!

Rasa sate kambing mungkin sudah biasa.

Tetapi bagaimana jika daging kambingnya dadakan atau baru disembelih?

Hemm pasti menggugah selera.

Seperti apa rasa sate kambing dadakan ala Mang Eet?

SUMEDANG, eljabar.com — Warung Sate Kambing Dadakan Leces Gaul yang berlokasi di Jalan Parakanmuncang Simpang Desa Mekarbakti Kecamatan Pamulihan hadir sebagai tempat makan bagi penikmat daging kambing pilihan.

Citarasa yang menggugah selera melalui kambing yang baru saja dipotong dan bumbu resep rahasia menjadikan warung makan ini tak pernah sepi pengunjung.

Bagaimana tidak, kambing muda yang dagingnya masih empuk dan disembelih dadakan menjadikan warung sate kambing ini berbeda dengan yang lain. Aroma khas daging kambing dan guyuran lemaknya masih terasa kental. Belum lagi bumbu kacang dan irisan acar membuat lidah ini bergoyang.

Tak hanya sate, gule kambing dan sapi juga tak kalah nikmatnya. Rasa gule yang khas dengan daging sapi dan kambing dadakan, membuat dagingnya empuk dimakan.

Berawal dari ditinggal istri, sejak empat tahun yang lalu, Eet (50), sang pemilik warung terus berbenah memperbaiki karirnya sebagai penjual sate. Satu tahun menganggur, dia mulai bangkit dan membuka warung sate di pinggir jalan.

Awalnya, hanya satu kambing yang laku terjual dalam satu hari. Warung satenya juga sederhana, hanya pembakaran sate dan tempat duduk makan alakadarnya.

Begitu pun dengan parkir kendaraan hanya muat untuk motor saja. Itulagi di pinggir jalan yang arusnya cepat (jalan provinsi).

Namun, tiga tahun meniti karir perkembangan usaha sate bakarnya berkembang pesat. Awalnya hanya satu orang karyawan, kini menjadi 10 orang karyawan.

Kini, dalam sehari dia mampu menjual 5 ekor kambing. Bahkan omzetnya hingga jutaan dalam sehari.

“Alhamdulillah merintis usaha tiga tahun sekarang jadi berhasil. Setiap hari tak pernah sepi pengunjung. Bahkan buka jam 09.00 sampai jam 23.00 selalu saja ada pembeli,” kata Eet kepada wartawan, Senin (04/03/2019).

Sambil membakar sate,  Eet melanjutkan perberbincang, meski omzetnya jutaan, dan ratusan tusuk sate laku dalam sehari, namun Eet tak berniat memakai kipas angin untuk membakar sate.

“Kalau pake kipas angin satenya suka gosong, terus rasanya kurang enak. Makanya saya memakai cara tradisional saja membakar sate pake arang dan hidhid (kipas dari anyaman bambu),” katanya.

Untuk satu porsi sate (10 tusuk) Eet menjualnya Rp20 ribu. Sedangkan untuk sop (gule), satu porsinya Rp25 ribu.

“Kalau pake nasi tambah Rp5000. Pokonya harganya terjangkau tapi rasanya seperti di restoran mewah,” katanya terus terang.

Menurutnya dalam berbisnis itu yang terpenting fokus dan jangan patah semangat. Dia pun mengakui dalam satu tahun berjalan usahanya itu dirinya dikirim ilmu gaib hingga satenya tak laku. Namun, dia tak patah semangat hingga melewati dua tahun usaha dan berhasil sampai sekarang.

“Dulu tidak ada tempat parkir, sekarang alhamdulillah tempat parkir luas, mobil pun masuk beberapa unit. Tanah ini saya sewa dari seseorang,” katanya.

Hingga kini, dia dibantu 10 karyawan termasuk para kerabatnya. Sehingga dia mampu mengurangi pengangguran di Kecamatan Pamulihan. (Abas)

Categories: Kronik