Uncategorized

Wirya Uji Kepemimpinan Dirut BNI: Berani Tegakkan Kebenaran atau Lindungi Bawahan?

SUMENEP, Eljabar.com – Pengembang Perumahan Bukit Damai, Wirya, meminta Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk untuk bersikap arif, tegas, dan bijaksana dalam menyikapi persoalan yang tengah mencuat. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang berpegang pada nilai kebenaran dan keadilan, sebagaimana pesan Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 42 tentang larangan mencampuradukkan hak dan batil.

Menurut Wirya, munculnya kasus yang melibatkan pihak internal BNI menjadi ujian nyata bagi jiwa kepemimpinan Direktur Utama. Ia mengingatkan agar pimpinan tertinggi tidak serta-merta melindungi seluruh jajaran di bawahnya apabila terbukti terdapat tindakan yang menyimpang dari kebenaran.

“Jangan sampai karena alasan solidaritas atau hierarki, justru ketidakbenaran dibiarkan. Kepemimpinan sejati diuji ketika berani bersikap adil, sekalipun itu berat,” ujar Wirya.

Wirya juga menepis anggapan bahwa pengakuan atas kesalahan akan menjatuhkan martabat pribadi maupun institusi. Sebaliknya, ia menilai sikap jujur dan bertanggung jawab justru akan meningkatkan kehormatan dan kepercayaan publik.

“Tidak ada organisasi yang runtuh karena mengakui kesalahan. Yang meruntuhkan marwah adalah ketika kesalahan ditutupi,” tegasnya.

Untuk memperkuat pesannya, Wirya mengutip kisah teladan di masa Khalifah Umar bin Khattab, yang dikenal sebagai pemimpin adil dan tegas. Kisah tersebut menceritakan seorang Yahudi tua yang rumahnya digusur secara paksa oleh Gubernur Amr bin Ash demi perluasan masjid. Merasa dizalimi, Yahudi itu mengadu kepada Khalifah Umar di Madinah.

Mendengar laporan tersebut, Khalifah Umar mengirimkan sepotong tulang unta yang tergores garis pedang kepada Amr bin Ash sebagai simbol peringatan keras agar tetap lurus dan adil dalam menjalankan amanah. Pesan tersebut membuat Amr bin Ash gemetar ketakutan, menyadari bahwa kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menindas hak siapa pun, meski dengan alasan kebaikan.

Amr bin Ash kemudian memerintahkan agar rumah Yahudi tua itu dibangun kembali dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Peristiwa itu begitu membekas hingga sang Yahudi akhirnya menghibahkan rumahnya dan memeluk Islam, terkesan oleh keadilan dan kebijaksanaan Umar bin Khattab.

Dari kisah tersebut, Wirya menekankan dua pesan penting. Pertama, keadilan hanya akan terwujud jika pemimpin tidak mencampuradukkan hak dan batil. Kedua, niat baik tidak pernah membenarkan cara yang keliru, terlebih jika mengorbankan hak orang lain.

“Kami berharap jajaran BNI, dari tingkat pusat hingga daerah, dapat meneladani sifat keadilan, keberanian, dan kebijaksanaan Umar bin Khattab dalam menjalankan amanah,” pungkas Wirya. (Ury)

Show More
Back to top button