Digelar Bawaslu Sumedang, Refleksi dan Evaluasi Pengawasan Pemilu Partisipatif Diikuti Ratusan Mahasiswa dan Santri

SUMEDANG, eljabar.com — Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumedang menggelar kegiatan Refleksi dan Evaluasi Pengawasan Pemilu Partisipatifbersama ratusan Mahasiswa dan Santri di Hotel Puri Khatulistiwa, Jum’at (20/12/2019).

Ketua Bawaslu Sumedang, Dadang Priyatna menjelaskan, Dalam pelaksanaan pesta demokrasi, sejatinya setiap pemilih bisa menjadi pemantau, minimal untuk suara mereka sendiri.

“Masing-masing pemilih juga menjadi pemantau di lingkungan mereka. Korelasi antara demokrasi dan partisipasi sangat erat, keduanya integral. Demokrasi adalah konsep yangmengapresiasi partisipasi. Sebaliknya partisipasi dapat terekspresikan dalam sebuah horizon yang demokratis. Nilai dan fungsi yang ada dalam partisipasi seperti, kontrol, kritisisme, pengawasan memainkan peran bagi tegaknya sendi-sendi demokratisasi. Pentingnya partisipasi inilah yang membuatnya menjadi roh demokrasi,” katanya.

Berkaitan hal tersebut, sambung Dadang, Dalam rangka pelaksanaan pengawasan partisipatif, pendidikan pemilih harus dilakukanagar masyarakat mengerti hak politiknya pada Pemilu, sehingga dapat memberikan kesadaran politik bahwa Pemilu merupakan suara penilaian evaluasi rakyat secara periodik dan juga hak untuk memberikan kedaulatan serta memastikan kedaulatan pemilih tidak terganggu.

“Kesadaran politik masyarakat merupakan kunci pertama mendorong keberhasilan partisipasi. Tanpa adanya kesadaran politik masyarakat, maka partisipasi dalam pengawasan Pemilu tidak akan berjalan. Kendati demikian, kesadaran masyarakat tidak bisa berdiri sendiri, perlu ada mekanisme yang memudahkan untuk memfasilitasi kesadaran tersebut,” ucapnya.

Ditempat yang sama, Kepala Sekretariat Bawaslu Sumedang Nurhayat menyatakan, Refleksi dan Evaluasi Pengawasan Pemilu Partisipatif dilaksanakan guna terbangunnya kesepahaman tugas dan fungsi Bawaslu dalam pengawasan Pemilu yang lalu. Meningkatnya partisipasi aktif dalam pengawasan Pemilu, Terwujudnya strategi pengawasan Pemilu berupa pencegahan dan penindakan pelanggaran.

Sementara itu, salahsatu peserta kegiatan, Nita Rosita yang juga mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komunikasi (STMIK) Sumedang mengakui, melalui kegiatan tersebut banyak pengetahuan ke pemiluan yang dipahaminya, terlebih tugas tugas Bawaslu apa saja dan bagaimana.

“Namun, kami menilai bahwa Pemilu kemarin merupakan pesta demokrasi yang rumit, mengingat banyaknya daftar Calon Legislatif (Caleg) yang membuat masyarakat bingung memilihnya,” katanya.

Tak hanya itu, sambung Nita, para Caleg tersebut kebanyakan tidak begitu dikenal oleh masyarakat.

“Para Calegpun dinilai kurang kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat. Olehsebab itu, kami berharap, Pemilu kedepannya lebih baik lagi dan para Caleg dapat lebih optimal dalam menyosialisasikan dirinya kepada masyarakat,” pungkasnya. (Abas)

Advertisement

Categories: Politik