Farhan: TKA Bukan Penentu Kelulusan, tetapi Cermin Kualitas Pendidikan Nasional

BANDUNG, eljabar.com – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) bukanlah instrumen yang menentukan kelulusan siswa, melainkan alat evaluasi untuk mengukur kualitas pendidikan secara menyeluruh. Menurutnya, hasil TKA harus dipandang sebagai bahan refleksi bagi pemerintah, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
Pernyataan tersebut disampaikan Farhan saat meninjau pelaksanaan TKA sekaligus menghadiri pengukuhan pengurus Asosiasi Kepala Sekolah Seluruh Indonesia (AKSI) Kota Bandung di SMP Negeri 1 Bandung, Kamis (9/4/2026).
“TKA ini adalah alat ukur kemampuan akademik siswa secara nasional. Hasilnya menjadi semacam rapor bagi kita semua untuk melihat kualitas pendidikan, tetapi bukan penentu lulus atau tidaknya anak-anak,” ujar Farhan.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, pelaksanaan TKA di Kota Bandung berjalan lancar tanpa kendala berarti. Seluruh infrastruktur pendukung, mulai dari jaringan internet hingga perangkat ujian berbasis digital, berfungsi dengan baik sehingga proses pelaksanaan berjalan sesuai rencana.
Farhan mengapresiasi kesiapan sekolah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan TKA. Menurutnya, kelancaran pelaksanaan menjadi bukti bahwa sistem pendidikan di Kota Bandung semakin siap menghadapi transformasi digital dalam proses pembelajaran maupun evaluasi.
“Alhamdulillah, secara infrastruktur semua berjalan lancar. Tidak ada kendala, baik dari sisi jaringan maupun perangkat. Pelaksanaan juga dibagi dalam beberapa gelombang untuk memastikan seluruh peserta dapat mengikuti ujian dengan baik,” katanya.
Namun di balik keberhasilan pelaksanaan TKA, Farhan mengingatkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan akademik. Ia menilai sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa di tengah berbagai perubahan sosial yang terjadi.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga menyampaikan ucapan selamat kepada jajaran pengurus AKSI Kota Bandung yang baru dikukuhkan, termasuk Ketua DPC AKSI Kota Bandung, Suratman. Ia berharap organisasi para kepala sekolah tersebut dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat pendidikan karakter di sekolah.
Menurut Farhan, kepala sekolah tidak hanya bertugas mengelola institusi pendidikan dan meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam membina mental serta karakter peserta didik.
“Sebagai kepala sekolah, kita memiliki tanggung jawab besar untuk membina anak-anak agar tidak tumbuh dengan mentalitas yang mengarah pada kekerasan,” tegasnya.
Farhan mengungkapkan bahwa persoalan tawuran pelajar masih menjadi salah satu tantangan yang harus terus diantisipasi. Meskipun skalanya tidak sebesar beberapa tahun lalu, potensi konflik antar pelajar tetap memerlukan perhatian serius dari sekolah, orang tua, dan pemerintah.
Selain itu, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa diabaikan. Di satu sisi, kemajuan teknologi membuka akses informasi dan pengetahuan yang sangat luas bagi siswa. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi tanpa pengawasan dapat membawa dampak negatif terhadap perkembangan mental dan perilaku anak.
“Disrupsi digital membuka akses pengetahuan yang luar biasa luas bagi anak-anak kita. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga bisa terpapar berbagai konten negatif jika tidak memiliki pendampingan dan filter yang memadai,” jelas Farhan.
Lebih jauh, ia mengungkapkan hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bandung terkait kondisi kesehatan mental pelajar. Data tersebut menunjukkan adanya angka yang cukup mengkhawatirkan mengenai kondisi psikologis siswa di Kota Bandung.
“Terdapat sekitar 60 hingga 70 ribu siswa dari tingkat SD hingga SMA yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental, mulai dari stres ringan hingga depresi berat,” ungkapnya.
Menurut Farhan, fenomena tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan akademik, persoalan keluarga, pergaulan sosial, hingga tingginya paparan media digital yang tidak selalu berdampak positif bagi perkembangan anak.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat berbagai program pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi muda yang sehat secara mental, disiplin, dan memiliki ketahanan diri yang kuat.
Salah satu program yang tengah dijalankan adalah menghadirkan instruktur dari unsur TNI dan Polri untuk memberikan pembinaan kepada siswa, khususnya di tingkat SMP kelas 8 dan 9. Program tersebut difokuskan pada pembentukan disiplin, kepemimpinan, pengendalian diri, serta kemampuan menghadapi tekanan sosial di lingkungan sekitar.
“Kita ingin memastikan anak-anak tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, mampu mengendalikan diri, memiliki empati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral,” ujarnya.
Farhan optimistis bahwa kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan berbagai elemen masyarakat dapat menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan saat ini. Ia berharap AKSI mampu menjadi motor penggerak dalam memperkuat kualitas pendidikan sekaligus membangun generasi muda yang siap menghadapi masa depan.
“Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan para kepala sekolah, kita optimistis dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, sehat secara mental, dan siap menjadi pemimpin masa depan,” pungkasnya.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang terus berlangsung, Farhan menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik semata. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul, berintegritas, serta memiliki ketahanan mental untuk menghadapi tantangan zaman. *red







