Jaringan Islam Anti Diskriminasi: Merah Putihkan MUI…! – El Jabar

Jaringan Islam Anti Diskriminasi: Merah Putihkan MUI…!

JOMBANG, eljabar.com — Penangkapan anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Zain An-Najah oleh Densus 88 mendapat tanggapan sejumlah kalangan, salah satunya adalah Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD).

Lembaga nir laba yang berbasis di Jombang itu mengaku tidak kaget atas penangkapan terhadap beberapa petinggi MUI yang diduga terlibat terorisme.

Melalui rilis yang dipublis melalui akun facebook Koordinator JIAD, Aan Anshori, menyebutkan bahwa selama ini MUI cenderung terlihat tidak progresif mendukung 4 pilar kebangsaan dan dianggap justru mencitrakan diri sebagai penjaga konservatifme Islam.

Menurut Koordinator JIAD Aan Anshori, konservatifme Islam tidaklah sehat dan sangat terobsesi menyeret Indonesia sebagai negara islam dalam bingkai Pancasila.

Sehingga, Pancasila yang awalnya dimaksudkan sebagai landasan bersama atau kalimatun sawa semua agama dan kepercayaan untuk keharmonisan, oleh kelompok tertentu di MUI telah ditelikung untuk menghalalkan tegaknya formalisasi Islam di Indonesia.

Penelikungan ini sangatlah berbahaya jika tidak diantisipasi dan direspon sesegera mungkin, sebab secara politik, keberadaan MUI dalam memengaruhi model keislaman di Indonesia masih sangat strategis.

Untuk itu, JIAD sangat mengapresiasi kerja-kerja Densus 88 yang bekerja cukup serius mejaga MUI dari anasir-anasir terorisme dan radikalisme berbasis Islam.

Akan tetapi, kata Aan, pihaknya mendesak aparat keamanan tetap bekerja profesional, transparan, dan akuntabel dalam kasus ini dan berpatokan pada hukum dan aturan yang berlaku.

Selain itu, penangkapan terhadap petinggi MUI tersebut tidak bisa dikatakan sebagai upaya politik rezim Jokowi merepresi Islam maupun ulama. Tudingan seperti itu tidaklah pas dan cenderung emosional.

“Implementasi keislaman butuh kontrol semua pihak agar tetap dalam relnya, yaitu rahmatan lil ‘alamin,” kata Aan, Rabu (17/11/2021).

Ia juga menambahkan, bagi JIAD, Islam tidak sama dengan politik Islam, maupun kelompok Islam. Ada banyak kelompok Islam Merah-Putih yang cukup serius berseberangan dengan kelompok yang ditangkap Densus 88.

Namun sayangnya, kelompok Merah-Putih di MUI terasa tidak berkutik, kikuk dan keok hadapan kelompok radikal di sana.

“Padahal di sana terdapat NU yang dikenal sebagai tulang punggung Islam moderat,” imbuhnya.

JIAD menilai, kekikukan seperti ini tidak bisa lagi ditolerir, mengingat hal tersebut justru akan merobohkan MUI sebagai salah satu pilar penjaga Pancasila di tubuh kelompok Islam.

Oleh karena itu, kelompok Merah-Putih di MUI, bersama dengan pemerintah, perlu melakukan seleksi ketat terkait siapa yang bisa duduk di kepengurusan MUI.

“Tidak asal terima,” tegasnya.

Untuk keperluan ini, JIAD mendorong MUI Merah-Putih berani melakukan otokritik. Bahkan, kalau perlu, melakukan reassessement bagi seluruh pengurus MUI untuk mengetahui mana yang bersetia pada Pancasila dan mana yang lamis. Meski begitu, pihaknya juga tidak setuju dengan gagasan dan pemikiran pembubaran MUI.

“Hal itu bertabrakan dengan semangat demokrasi,” ujar Aan.

JIAD menilai peran MUI sama dengan peran organisasi sipil lainnya. Malfungsi MUI hanya bisa diperbaiki dengan cara melakukan pembenahan orang-orang yang ada di dalamnya. Reviitalisasi MUI menjadi lebih Merah-Putih merupakan jawaban yang perlu direalisasikan.

“Semua komponen, termasuk Densus 88 wajib mendorong realisasi tersebut,” katanya.

Selanjutnya Aan menyarankan agar pemerintah menghentikan dukunga kepada MUI, apabila lembaga tersebut menolak berbenah.

Sementara itu,Majelis Ulama Indonesia mengaku kaget atas penangkapan Ustadz Zain An-Najah. Melalui penjelasan resmi yang dirilis di laman mui.or.id, Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan menegaskan bahwa dugaan keterlibatan salah satu anggota Komisi Fatwa MUI itu adalah urusan pribadi. (*wn)

Categories: Kronik