Mengurai Problem Tingginya Angka Kematian Ibu – El Jabar

Mengurai Problem Tingginya Angka Kematian Ibu

Oleh: N. Vera Khairunnisa

IBU memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Dari rahim merekalah lahir calon generasi penerus masa depan. Mereka pula yang berperan besar dalam merawat dan mendidik anak-anak hingga tumbuh dewasa dan sukses. Betapa banyak sosok hebat di dunia ini, dikarenakan peran ibunya yang luar biasa dalam mendidik mereka.

Namun sayangnya, ada satu problem cukup serius hari ini yang berkenaan dengan para ibu, yaitu problem kesehatan mereka. Banyak para ibu yang meninggal dikarenakan berbagai penyakit yang dideritanya.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Erna Mulati, bahwa 50 persen angka kematian ibu di Indonesia disumbang oleh enam provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Utara, dan Aceh.

Ia menjelaskan bahwa penyebab kematian ibu antara lain gangguan hipertensi (31,9 persen), perdarahan obstetri (26,9 persen), komplikasi non-obstetri (18,5 persen), komplikasi obstetri lain (11,8 persen), serta komplikasi pasca-keguguran dan infeksi pada kehamilan (9,2 persen).

Pada masa pandemi COVID-19, ia mengatakan, infeksi virus corona tipe SARS-CoV-2 juga berkontribusi pada peningkatan angka kematian ibu. (jabar.antaranews. com, 23/09/21)

Perkara hidup dan mati memang termasuk bagian dari qada (ketetapan) Allah SWT. Hanya saja, perlu untuk jadi bahan evaluasi, apa yang menjadi penyebab banyaknya angka kematian pada ibu tersebut. Bisa jadi, ada peran manusia yang menjadi penyebabnya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya angka kematian para ibu adalah sulitnya mendapatkan layanan kesehatan. Kita tahu bahwa hari ini, layanan kesehatan bukanlah hal yang bisa dengan mudah dijangkau oleh semua pihak. Hal ini dikarenakan biaya kesehatan yang mahal. Bahkan sampai ada sebuah istilah, “Orang Miskin Dilarang Sakit”.

Bahkan, keberadaan BPJS yang digadang-gadang bisa mempermudah masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan pun, pada realitanya justru hanya menjadi tambahan beban bagi rakyat. Karena rakyat wajib untuk membayar iuran yang sudah ditetapkan besarannya setiap bulan.

Biaya Kesehatan Jadi Mahal, Akibat Corak Paradigma Kapitalis

Mengapa biaya kesehatan cenderung mahal? Padahal, kesehatan adalah hak semua warga negara. Semestinya, negara menjamin pemenuhan layanan kesehatan pada rakyat dengan layanan terbaik, tanpa membeda-bedakan status sosial.

Namun kenyataannya tidak demikian, layanan kesehatan terbaik hanya akan diberikan kepada mereka yang mampu memberikan bayaran terbaik. Maka tidak heran jika di Rumah Sakit, kita akan menemukan kelas-kelas.

Semakin murah pilihan biaya yang diambil, maka semakin minim fasilitas ruangan dan layanan yang diberikan. Sebaliknya, semakin mahal pilihan biaya yang diambil, semakin bagus pula ruangan dan layanan yang didapatkan.

Inilah yang menjadi sebuah indikasi bahwa sistem yang diterapkan hari ini cenderung kapitalistik, memandang segala sesuatu berdasarkan materi. Bahkan dalam urusan yang berkenaan dengan hajat hidup orang banyak pun, mengedepankan aspek untung dan rugi.

Bagaimana mungkin akan terbentuk masyarakat yang sehat, jika layanan kesehatan dipersulit? Bagaimana mungkin akan mampu mencegah angka kematian para ibu, jika tidak ada keseriusan untuk memberikan layanan kesehatan terbaik dengan mudah dan murah.

Memang satu hal yang sulit, kalau tidak ingin dikatakan musahil, kesehatan terbaik dengan mudah dan murah akan didapatkan dalam suasana kehidupan sekuler kapitalis seperti hari ini. Terlebih lagi, adanya liberalisasi di bidang kesehatan yang membuat biaya kesehatan semakin mahal.

Betapapun banyaknya rumah sakit yang dibangun, semakin canggihnya perkembangan teknologi di bidang kesehatan, tidak akan berpengaruh apa-apa jika seluruhnya itu tidak bisa dijangkau oleh semua pihak.

Besarnya presentase kematian para ibu semestinya menjadi cambuk bagi para pemegang amanah rakyat, untuk bisa lebih optimal lagi dalam meningkatkan layanan kesehatan. Namun sekali lagi, hal ini menjadi satu hal yang sulit bisa diwujudkan dalam negara yang sudah begitu kental dengan cara pandang kapitalisme.

Sudah saatnya kita mencari jalan alternatif, sebuah solusi fundamental yang akan mampu menyelesaikan problem kesehatan. Yakni dengan menjadikan Islam sebagai paradigma dan aturan untuk mengurus masalah kesehatan negara.

Sistem Kesehatan dalam Islam

Dalam sistem Islam, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya daripada hilangnya dunia. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasai 3987, Turmudzi 1455).

Jangankan manusia, hewan pun dijamin keselamatannya dalam sistem Islam. Khalifah Umar Bin Khaththab Ra. pernah berkata, “Seandainya ada keledai yang mati karena terperosok di jalanan Madinah, tentu Umar akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.”

Hal ini karena dalam Islam, keberadaan pemimpin berfungsi untuk mengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas pengurusannya tersebut di akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Imam (penguasa) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Dilihat dari aspek paradigma Islam, kesehatan adalah hak dasar publik. Maka dari itu, seharusnya negara berperan sebagai penyelenggara utama sistem kesehatan. Negara berkewajiban memberikan layanan kesehatan terbaik secara gratis tanpa memungutnya dalam bentuk iuran apapun.

Sedangkan dari aspek pembiayaan, Baitul mal adalah sumber pemasukan negara, termasuk di dalamnya sektor kesehatan. Salah satu sumber pemasukan Baitulmal adalah harta milik umum berupa tambang, gas alam, minyak bumi, emas, listrik, hutan, laut, dan lainnya. Pengelolaan harta ini pasti akan sangat mencukupi pembiayaan sistem kesehatan.

Dari aspek pengelolaan, konsep kendali mutu jaminan kesehatan sistem Islam, berpedoman pada tiga strategi utama, administrasi yang simpel, sigap dalam pelaksanaan, dan diemban oleh personal yang kapabel. Rasulullah Saw. Bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu.”

Selain dari tiga aspek tersebut, juga akan dilakukan upaya pencegahan (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif). Yakni dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh mulai dari sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan, kesehatan, dan pemerintahan. (muslimahnews. id)

Demikianlah, hanya dengan penerapan sistem Islam, problem kesehatan termasuk tingginya angka kematian ibu bisa terselesaikan. Ibu sehat, generasi penerus pun siap untuk menyongsong peradaban Islam dengan penuh semangat. **

Categories: Kronik