Pendidikan Islam Mewujudkan Peradaban Cemerlang - El Jabar

Pendidikan Islam Mewujudkan Peradaban Cemerlang

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jawa Barat berupaya meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan/vokasi. Salah satunya dengan menggandeng City of Glasgow College, Britania Raya untuk mengembangkan pendidikan di bidang kemaritiman.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya serius dalam merevitalisasi SMK di Jawa Barat dengan mengembangkan kurikulum untuk menyelaraskan antara industri dengan sekolah menengah kejuruan (SMK). Pasalnya, selama ini SMK mengalami berbagai persoalan yang kompleks, terutama menyangkut keprofesionalan dari lulusan yang dirasa masih kurang sehingga belum maksimal dalam menjamin masa depan. (warta ekonomi, 19/11/2020)

Wabah corona benar-benar telah menampakkan wajah buruk sistem sekuler kapitalisme neoliberal. Selain berdampak parah terhadap aspek kesehatan dan ekonomi, wabah juga menambah karut-marut di aspek kehidupan lainnya, termasuk bidang pendidikan.

Jika dicermati lebih dalam, negara yang berparadigma sistem sekuler kapitalis neoliberal memang tak mungkin serius menjadikan pendidikan sebagai jalan kemuliaan mewujudkan peradaban cemerlang. Karena dalam sistem rusak ini, pendidikan justru harus menjadi salah satu instrumen pengokoh hegemoni kapitalisme global, yang bersembunyi di balik kata investasi korporasi dan revolusi industri.

Dan faktanya, kebijakan pendidikan hari ini nampak selalu kental dengan hitung-hitungan ekonomi. Seperti demi peningkatan kemampuan produksi. Demi mendorong investasi dan industrialisasi. Dan semacamnya. Padahal, berbicara proses produksi, investasi dan industrialisasi pada hari ini, sejatinya berbicara tentang hegemoni kaum kapitalis yang tampil dalam bentuk korporasi.

Inilah yang sekarang kita lihat. Negara begitu concern mendorong tumbuhnya institusi-institusi pendidikan vokasi. Atau gencar menggagas pendidikan berbasis link and match dengan industri. Begitu pula, negara nampak begitu bersemangat memfasilitasi berbagai kerjasama penelitian antara institusi pendidikan dan korporasi.

Menyelaraskan kurikulum dengan industri tentu berbahaya. Sebab, akan mengubah paradigma pendidikan vokasi itu sendiri. Pendidikan bisa menjadi alat bagi makin berkuasanya para korporat. Negara akan makin kapitalis dengan filosofi ini. Dengan demikian, konsep ini makin menegaskan bahwa pendidikan vokasi di Indonesia bercorak kapitalisme liberal.

Pendidikan vokasi seharusnya dirancang untuk menghasilkan tenaga ahli dan terampil di berbagai bidang kehidupan (sesuai jenjangnya, baik di sekolah menengah maupun perguruan tinggi). Mereka bukanlah budak (sapi perah) para pelaku usaha dan industri. Keterampilan ini selayaknya bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya menguntungkan para pengusaha. Mereka bahkan seharusnya mampu berdikari menciptakan usaha mandiri dan lapangan kerja. Tidak hanya bergantung pada industri milik korporat.

Kondisi ini juga menunjukkan lemahnya peran Negara. Selama ini Negara tidak memerankan perannya secara dominan, bahkan lebih bergantung kepada perusahaan swasta. Akibatnya perusahaanlah yang lebih berperan dalam membina (bekerja sama) dengan SMK.

Walhasil arah pendidikan dalam sistem berparadigma rusak yang diterapkan hari ini, memang tak lebih dari mesin pensuplai kebutuhan pasar tenaga kerja bagi industri raksasa milik negara-negara adidaya. Bukan sebagai pilar membangun peradaban cemerlang. Dan dampaknya akan terus membuat negeri ini terposisi sebagai objek penjajahan. Tak berdaulat dan jauh dari kemandirian.

Yang pasti, sepanjang bangsa ini mengukuhi paradigma pendidikan sekuler yang disupport oleh negara yang juga berparadigma sekuler, maka negeri ini akan terus dalam posisi demikian. Terjajah dan terhina dina. Sehingga satu-satunya jalan untuk mengubahnya adalah dengan mencampakkan sistem pendidikan sekuler berikut sistem politik yang menerapkannya. Dan di saat yang sama, menerapkan sistem pendidikan Islam berikut sistem politik yang menaunginya. Yakni sistem khilafah Islam.

Sistem pendidikan Islam ini tegak di atas asas akidah Islam yang sahih lagi kokoh. Yakni berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala. Dan bahwa apa yang ada sebelum kehidupan dunia, serta apa yang ada setelahnya, berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia di dunia. Yakni dalam bentuk hubungan penciptaan dan pertanggungjawaban (hisab).

Akidah inilah yang menjadikan kehidupan ini tak hanya bersifat profan. Tapi punya dua dimensi yang satu sama lain saling menguatkan. Yakni dimensi keduniawian dan keakhiratan. Maka dalam konteks sistem pendidikan, akidah ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai washilah untuk melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Yakni sebagai hamba Allah yang berkepribadian Islam dan sebagai khalifah yang punya skill dan kecerdasan untuk pembangun peradaban cemerlang.

Umat membutuhkan sistem pendidikan vokasi dalam bingkai Khilafah. Sistem pendidikan Islam dalam Negara Khilafah bukan saja akan membekali siswanya dengan berbagai keterampilan dan keahlian di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Namun, juga mampu berdikari menciptakan peluang usaha.

Kurikulum dibuat untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sahih. Yaitu, lahirnya manusia berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan. Kemanfaatannya bagi seluruh manusia, bukan korporasi (swasta, apalagi asing) yang cenderung menguasai hajat hidup manusia seluruhnya.

Visi inilah yang kemudian diturunkan dalam kurikulum pendidikan Islam di setiap tingkatannya, berikut metoda pembelajarannya. Yang dalam penerapannya di-support penuh oleh negara dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang. Termasuk para pendidik yang punya kapasitas dan kapabilitas mumpuni.

Bahkan support negara sedemikian maksimal. Hingga para guru, para ilmuwan dan peneliti diapresiasi dengan gaji dan insentif yang tinggi. Begitupun dengan para siswanya. Merekapun diberi fasilitas serba gratis, yang membuat mereka benar-benar fokus dalam tugasnya masing-masing. Baik sebagai pendidik dan arsitek generasi, maupun sebagai pembelajar yang siap berkhidmat untuk umat saatnya nanti.

Kondisi ideal ini sangat niscaya. Karena sistem pendidikan Islam didukung oleh sistem-sistem lain yang menjamin tercapainya visi pendidikan. Yang terutama adalah penerapan sistem politik Islam, yang menetapkan bahwa negara atau penguasa adalah pengurus dan penjaga umat. Negara Islam seperti inilah yang akan menerapkan seluruh aturan Islam, yang dipastikan akan mensupport penuh sistem pendidikan Islam.

Misalnya sistem ekonomi dan keuangan Islam, yang salah satunya mengatur soal kepemilikan. Bahwa sumberdaya alam yang ada merupakan milik umat. Dan negara wajib mengelolanya untuk kemaslahatan umat. Bahkan ada sumber-sumber keuangan lain yang ditetapkan oleh syariat, yang membuat negara memiliki dana nyaris tak berbatas untuk mensejahterakan rakyatnya. Termasuk mensupport sistem pendidikan gratis lagi berkualitas bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.

Support system pun datang dari penerapan sistem lainnya, seperti sistem sosial Islam sistem informasi dan kemedia-masaan Islam, serta sistem sanksi Islam yang menjamin tujuan pendidikan terealisasi dengan maksimal. Sehingga institusi pendidikan, negara, keluarga, dan masyarakat berjalan beriringan dalam mewujudkan dan menjaga generasi cemerlang. Bukan malah saling merobohkan sebagaimana terjadi dalam sistem sekarang.

Inilah rahasia di balik tegaknya peradaban Islam yang demikian gemilang. Belasan abad, umat Islam mampu tampil sebagai umat terbaik dan menjadi trensetter dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari aspek pemikiran, sains, teknologi, seni, budaya dan sebagainya. Bahkan saat itu, sistem pendidikan Islam yang disupport oleh penerapan syariah kaffah oleh institusi khilafah, mampu tampil sebagai mercusuar kebangkitan pemikiran di dunia Barat. Padahal kala itu Barat sedang diliputi kejahiliyahan akibat dominasi kejumudan dan doktrinasi agama yang menjauhkan umat dari tradisi berpikir cemerlang.

Justru saat umat Islam terlepas dari sistem pendidikan Islam, sejalan dengan lepasnya umat dari sistem khilafah Islam sebagai penerap aturan Islam kaffah, pelan tapi pasti umat terjauhkan dari kemuliaannya. Bahkan hari ini, umat tengah jatuh hingga level terendah sebagai bangsa-bangsa terjajah. Maka, agar bisa bangkit kembali, sudah saatnya umat kembali ke pangkuan Islam. Lalu menerapkan seluruh aturannya yang memuliakan, termasuk sistem pendidikan Islam dalam naungan khilafah Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Penulis adalah Tawati (Muslimah Revowriter Majalengka dan Member Writing Class With Hass)

Categories: Kronik