Rekor Baru Kasus Covid-19 di Jabar dan Upaya Penanggulangannya - El Jabar

Rekor Baru Kasus Covid-19 di Jabar dan Upaya Penanggulangannya

Oleh: Lilis Suryani

PANDEMI virus Corona masih berlangsung di wilayah Jawa barat, begitupun dalam skala nasional dan internasional. Justru dari hari ke hari kondisinya kian memprihatinkan. Kurva kasus peningkatan positif Corona di Jabar tak kunjung menurun. Sebaliknya kurva ini semakin menanjak, mengindikasikan masyarakat yang terpapar virus semakin banyak.

Dikutip dari harian berita online detikNews.com yang memuat terkait, lonjakan kasus Corona di Jawa Barat (Jabar) yang menembus rekor baru pada Kamis (3/12/2020).

Menurut pengumuman Satgas COVID-19 Nasional telah terjadi penambahan sebanyak 1.648 kasus baru di Jabar, kenaikan ini seiring dengan melesatnya angka harian COVID-19 di Indonesia yang mencapai angka 8.369 kasus.

Berdasarkan data terakhir, Jabar berada di urutan kedua setelah Papua yang dilaporkan terdapat 1.755 kasus. Kasus baru COVID-19 di Jabar juga melebihi DKI Jakarta (1.153 kasus), Jawa Tengah (767 kasus) dan Jawa Timur (564 kasus).

Jika sudah begini, siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan nyawa rakyat baik yang sudah maupun belum terpapar?

Belum lagi krisis yang terjadi di segala bidang, seperti krisis ekonomi, pangan, kesehatan dan biadang lainnya.

Mungkin benar, kurangnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan bisa menjadi faktor pemicu peningkatan jumlah pasien yang terpapar. Namun, kebijakan pemerintah lah yang sebenarnya menjadi kunci kesuksesan penanggulangan kasus Pandemi yang melanda ini.

Alih-alih mengkondisikan rakyat agar terhindar dari paparan virus, pemerintah justru membuat kebijakan yang menarik minat masyarakat untuk bepergian. Walaupun benar, telah ada himbauan dari Gubernur Jabar agar tetap diam dirumah selama liburan. Begitu juga ajakan untuk selalu menjalankan 3M. Padahal semestinya, hal tersebut tidak boleh sebelah tangan saja. Diperlukan peran serta negara  untuk menerapkan kan 3T (tracing, testing, treatment).

Masyarakat yang tengah terhimpit kesulitan ekonomi akibat Pandemi tentu merasa panik dan tidak akan berfikir panjang lagi. Faktanya, masyarakat lebih takut mati kelaparan daripada mati karena terpapar virus. Walhasil, masyarakat lebih memilih bekerja mencari nafkah ke luar rumah demi menyambung hidup mesti harus menyabung nyawa.

Begitupun dengan masyarakat yang pergi berwisata, karena kurangnya informasi dan edukasi pemerintah. Apalagi disertai ajakan berwisata yang aman dan murah tak ayal membuat masyarakat tertarik untuk pergi, ketimbang menahan diri untuk tetap dirumah saja. Akibatnya walaupun memberlakukan AKB dan protokol kesehatan, kasus peningkatan positif Corona masih terus terjadi.

Inilah bukti kegagalan dari kebijakan penguasa yang bersifat kapitalistik dalam menangani kasus covid-19. Tidak fokus terhadap upaya menyelamatkan nyawa rakyat, melainkan masih disisipi dengan berbagai kepentingan duniawi. Adapun sistem demokrasi semakin terlihat tidak bisa maksimal dalam menyelesaikan persoalan bangsa, karena negara tidak benar-benar tulus untuk mengatasi pandemi dan menyelamatkan rakyatnya.

Itulah kegagalan negara dalam menangani wabah.

Walaupun sebenarnya, kita telah lama mengalami krisis di segala bidang jauh sebelum Pandemi melanda. Krisis ini telah menjadi realitas dari kehidupan kita akibat tegangan-tegangan yang tak lagi terselesaikan dalam sistem kapitalisme. Dampak krisis ini seolah tak terasa oleh masyarakat luas lantaran resiko-resiko dari krisis selama ini secara tidak adil didistribusikan pada kaum kerja, miskin kota, petani, dan kaum adat.

Kebijakan neoliberal, sebagai respon kapital terhadap kegagalan developmentalisme, mendorong kebijakan austerity (pemotongan atau penghematan anggaran) oleh negara yang mengakibatkan pemotongan layanan kesehatan, pensiun atau perumahan dikalangan pekerja. Memperparah kondisi rakyat yang tengah bertahan hidup di dalam kondisi pandemi.

Benar, kita tengah berada dalam situasi krisis yang mencekam dan masa depan suram menunggu di hadapan. Namun, masa ini terlalu krusial untuk menutup diri dalam ketakutan dan berputus asa. Sudah saatnya kita umat muslim berdiri berpegangan tangan, menyatukan hati dan pemikiran. Mencari solusi dari apa yang sudah disyariatkan Allah dan Rasulnya, karena hanya itu harapan dan pilihan bagi kita saat ini.

Sudah saatnya pula, masyarakat menyadari bahwa tidak bisa lagi menyerahkan kepengurusannya kepada para punggawa bangsa jika masih pro terhadap kapitalisme. Apa yang di Syariatkan Allah dan di Sunnahkan oleh Rasulullah jauh lebih mulia dan terbukti membawa negara pengusungnya menjadi negara adidaya, superpower dan mercusuar peradaban. Negara berdasarkan Syariat Islam telah mengukir peradaban gemilang, ditulis lengkap dalam arsip-arsip sejarah Islam.

Tidak perlu banyak bersedih meratapi krisis yang tengah melanda, sebaiknya kita siapkan tenaga dan pemikiran untuk mewujudkan kembali kehidupan Islam yang akan membawa bangsa ini keluar dari masa terpuruknya menjadi bangsa dengan peradabannya yang cemerlang sebagaimana para pendahulu kita yang telah mengalaminya. Itulah solusi terbaik untuk menanggulangi Krisis bangsa ini  baik krisis karena Pandemi maupun krisis yang telah terjadi jauh sebelum Pandemi melanda.

Karena negara dalam sistem Islam akan dengan tulus melindungi rakyatnya. Karena di dalam Islam nyawa  rakyat itu sangat berharga. Bahkan terkait dengan nyawa, Rasulullah saw bersabda, “Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Mukmin tanpa haq.” (HR an-Nasa’i dan at-Tirmidzi).

Dengan demikian dalam pandangan Islam, nyawa manusia harus diutamakan, melebihi ekonomi, pariwisata, atau pun lainnya.

Maka dari itulah, solusi Pandemi ada pada Islam. Mekanisme di dalam Islam akan secara efektif menanggulangi Pandemi tanpa harus mengorbankan nyawa rakyatnya.

Wallahua’lam bishowab.

Categories: Kronik