Inspeksi Jembatan Nasional di Jatim, Etos Kerja Budaya Partikelir – El Jabar

Inspeksi Jembatan Nasional di Jatim, Etos Kerja Budaya Partikelir

Surabaya, eljabar.com – Kerusakan sejumlah jembatan nasional di Jatim kembali disorot. Sejumlah kalangan menuding kerusakan tersebut dipicu oleh kegiatan inspeksi yang belum optimal, sekadar ritual rutin dan berkala pemeliharaan jembatan semata.

Hal ini diungkapkan oleh pendiri Badan Aksi Kesatuan Mahasiswa (BAKM) Pasundan, Moh. Isnaeni. Selasa, (04/05/2021).

Kata Mohis, potensi kerusakan sebenarnya dapat dideteksi melalui kegiatan inspeksi jembatan. Yang jadi masalah adalah data-data dalam laporan inspeksi cuma dianggap hal normatif saja, sehingga lamban dalam implementasi juga penanganan.

“Seharusnya data-data dalam laporan inspeksi diverifikasi dan divalidasi kemudian dikaji. Tujuannya untuk menjaga terjadinya penurunan kondisi pada komponen dan elemen jembatan,” tegas Mohis.

“Saya kira, Operasi dan Pemeliharaan jembatan adalah kerja yang sangat terukur. Kalau cuma ngecat dan membersihkan tumbuhan yang digarap rutin tiap tahun, percuma SDM OP dibekali keahlian dan keterampilan,” ujar Mohis.

Selain kegiatan inspeksi rutin, Mohis menjelaskan bahwa pekerjaan pemeliharaan dalam skala besar juga masih ditemukan potensi pengurangan volume pekerjaan, mutu, bahkan kualitas pekerjaan pada struktur jembatan, seperti yang terungkap dalam fakta-fakta di lapangan.

“Pekerjaan pemeliharaan yang besar dan berkala masih ada saja yang tidak benar, dan itu terjadi karena memanfaatkan celah pengawasan yang lengah, tak tertib,” ujarnya.

Artinya, kegiatan inspeksi jembatan memerlukan dukungan sumber daya manusia yang mumpuni dan memiliki integritas.

Sementara yang terjadi saat ini, etos kerja kegiatan inspeksi jembatan masih lekat dengan praktik partikelir. Manipulasi data pekerja, Mohis menyebut masih sering ditemukan dalam pekerjaan pemwliharaan rutin jembatan dan jalan.

“Kalau orientasinya proyek bisa rusak kinerja operasi dan pemeliharaan,” katanya lugas.

Masih kata Mohis, dari catatan kami baru peristiwa jembatan Mahakam II atau yang lebih dikenal dengan jembatan Kutai Kertanegara yang memakan banyak korban yang menjerat dua orang dari operator jalan dan seorang dari pihak swasta.

Begitu juga dengan jembatan gantung Banjarsari II di Trenggalek, yang ambruk setelah tak lama diresmikan. Pada peristiwa yang dijerat hanya dari pelaksana itu pun hanya setingkat pekerja.

“Pemberi kerja lolos dari sanksi apapun,” ungkap Mohis.

Bagi masyarakat pengguna jalan dan jembatan, menurut Mohis yang paling penting adalah terwujudnya layanan jalan dan jembatan yang prima.

“Itu kewajiban penyelenggara jalan memenuhinya,” pungkas Mohis. (luq/bersambung)

 

 

 

 

 

 

Categories: Nasional