BBWS Brantas Pulihkan Infrastruktur SDA Pasca Banjir Vulkanik Semeru

LUMAJANG, eljabar.com – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas terus melakukan upaya pemulihan pasca bencana lahar dingin Gunung Semeru.
Kepala BBWS Brantas, M. Noor bersama tim melakukan monitoring tindak lanjut penanganan bencana di Desa Sumberlangsep, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang pada Rabu, 4 November 2026. Di Sungai Regoyo Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejali, tanggul darurat telah berhasil dibangun sepanjang 300 meter.
“Tanggul darurat akan dibangun sesuai rencana sepanjang 375 meter,” tulis akun resmi BBWS Brantas, dikutip Rabu (04/11/2026).
Selain itu, BBWS Brantas akan membangun jalan akses pembangunan sepanjang 50 meter.
“Jalan akses ini penting untuk aksesibilitas masyarakat,” lanjutnya.
Monitoring Kepala BBWS Brantas juga berhasil mengidentifikasi adanya gerusan di bawah jembatan Sungai Regoyo.
“Untuk gerusan di Jembatan Sungai Regoyo menjadi perhatian dalam penanganan lanjutan,” tutur M. Noor.
Menurut M. Noor, pihaknya BBWS terus melanjutkan penanganan bencana Semeru, termasuk pembukaan alur untuk lahar Gunung Semeru.
“Kami akan lakukan segera guna mendukung kelancaran aliran sungai serta mengurangi risiko kawasan sekitar,” ungkapnya.
Selanjutnya Kepala BBWS Brantas bersama tim melakukan penelusuran pada lokasi sawah yang terancam mengalami kekeringan di Desa Gesang, Kecamatan Tempeh. Berdasarkan hasil peninjauan, lahan pertanian di wilayah tersebut telah memasuki Musim Tanam (MT) III dengan komoditas padi.
Kekurangan air ini dipengaruhi rusaknya bangunan pengarah akibat terkena banjir lahar dingin di Kali Mujur saat terjadinya bencana Erupsi Gunung Semeru pada Senin, 2 November 2026 lalu.
“Bangunan ini merupakan sumber utama irigasi lahan pertanian, bila tidak segera ditangani dapat menimbulkan gagal panen,” jelas M. Noor.
M. Noor memastikan, BBWS Brantas segera membenahi bangunan pengarah. Sementara penangannya menggunakan bronjong agar aliran air dapat kembali masuk ke saluran irigasi dan mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
“BBWS Brantas berupaya mendukung pemulihan wilayah terdampak serta menjaga keselamatan dan aktivitas masyarakat. Sungai kembali tertata, akses terus dipulihkan demi menjaga harapan warga,” tutup M. Noor.
Sementara Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Dawuhan Timur, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Wahid Gufron, mengaku bahwa semua petani terkena dampak banjir lahar dingin tersebut. Akibatnya lahan pertanian tidak bisa diairi.
“Luas lahan yang terdampak mencapai 1.200 hektare dan yang sudah tertanam padi 100 hektare. Kami mengucapkan terimakasih kepada BBWS Brantas yang sudah datang ke lokasi dan akan menangani sudetan Klerek sehingga harapan petani tetap terjaga,” kata Wahid, dikutip Kamis (5/11/2026). (wan)







