PPTK DPUPR Pamekasan Akui Galian Sedimen Sungai Gurem Dijadikan Tanggul Penahan Banjir – El Jabar

PPTK DPUPR Pamekasan Akui Galian Sedimen Sungai Gurem Dijadikan Tanggul Penahan Banjir

PAMEKASAN, eljabar.com – Kegiatan normalisasi sungai Gurem sisi barat jembatan nasional yang berada di Jalan Trunojoyo Pamekasan terus berlangsung. Satu unit alat berat jenis beckhoe dan 10 orang tenaga kerja diturunkan untuk mengangkat sedimen yang menggunung di sungai tersebut.

Namun begitu, sejak kegiatan tersebut dilaksanakan sepekan lalu, hasil galian di bawah jembatan nasional Gurem, salah satu jembatan kewenangan PPK 3.3 Jawa Timur pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah 3 Provinsi Jawa Timur, ditimbun di atas konstruksi tanggul pasangan batu di sisi timur dan barat jembatan nasional tersebut.

Pemantauan eljabar.com di lokasi melihat timbunan hasil galian itu hanya dirapikan dengan memanfaatkan alat berat dan tanpa dilakukan pemadatan sebagaimana layaknya konstruksi tanggul sungai.

Sedangkan di ujung utara jembatan yang sisi sebelah barat, bekas galian sedimentasi sungai Gurem dibiarkan dan ditumpuk tak beraturan.

Tentu hal ini akan menjadi potensi terjadinya longsoran, sebab galian tersebut tidak dikerjakan sesuai dengan spesikasi teknis pembuatan tanggul sungai. Bahkan, kondisi itu dikhawatirkan dapat memengaruhi konstruksi jembatan milik Kementerian PUPR tersebut.

Biasanya, pembuatan tanggul yang berfungsi untuk mencegah daya rusak air atau banjir, memiliki spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

Metode pelaksanaan dan metode teknik pembuatan tanggul diatur sedemikian rupa agar memenuhi kualitas kontruksi tanggul yang diharapkan.

Misalnya, penghamparan tanah bekas galian yang digunakan untuk pembuatan tanggul, dikerjakan lapis demi lapis kemudian dipadatkan dengan alat pemadat tanah, seperti baby roller. Tidak serta merta ditimbun kemudian diratakan dengan alat berat penggali tanah (beckhoe), dan dipadatkan dengan menggunakan beckhoe itu sendiri.

Jika proses pembuatan tanggul sungai, baik yang utama maupun yang sekunder, hanya dilakukan asal jadi maka kualitas konstruksi yang diharapkan berdasarkan ketentuan yang dibuat oleh Kementerian PUPR, tidak terpenuhi.

Sementara, perhitungan biaya yang akan dibayarkan berpedoman pada jumlah hasil galian atau volume galian. Biaya tersebut dihitung secara rigid berdasarkan analisa harga satuan pekerjaan.

Kebutuhan alat berat (beckhoe), bahan bakar solar dan operator, dikonversi melalui perhitungan yang menggunakan rumus koefisien indeks masing-masing item pekerjaan.

Terpisah, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan normalisasi sungai DPUPR Kabupaten Pamekasan Mudaffar mengatakan, hasil galian di sungai Gurem dijadikan tanggul.

Ia mengaku, untuk membuang galian tersebut ke luar tidak dapat dilakukan, sebab jalan akses masuk kendaraan pengangkut tidak ada.

“Jalan masuk ke lokasi tidak ada dan sangat sempit, makanya bekas galiannya digunakan untuk membuat tanggul di bantaran sungai,” kata Mudaffar, Senin (11/10/2021), melalui selulernya.
Di samping itu, Mudaffar juga mengaku bahwa pembuatan tanggul tersebut telah dipadatkan sebelumnya, tanpa merinci metode pelaksanaan pekerjaan pemadatan yang dilakukan oleh tim yang diawasinya. (idrus)

Categories: Nasional